08 Juni 2009

Pulau Noko


Berasal dari bahasa apa kata "noko"?. Di dalam kamus Umum Bahasa Indonesia dan dalam Ensiklopedia Indonesia tidak ditemui kata "noko". Jadi sulitlah untuk memberikan pengertiannya.

Di Bawean, "noko" adalah sebuah pulau kecil yang terletak kurang lebih empat kilometer arah tenggara Pulau Bawean. Kalau berdiri di pantai timur Bawean akan tampaklah pulau kecil yang luas permukaannya hanya sekitar 5 ribu meter persegi. Struktur tanahnya terdiri atas gugusan pasir yang semuanya berwarna putih. Jadi Pulau Noko ini seakan lapangan yang terbuat dari pasir putih yang berada ditengah-tengah laut.

Ada dongeng menarik tentang asal muasal terjadinya Pulau Noko ini. Sekitar 400 tahun yang lalu di Nusantara ini terjadi angin besar. Hampir semua pulau di Indonesia diterpa angin besar tersebut. Lantaran angin dahsyat itu banyak rumah penduduk roboh, pohon-pohon besar juga bertumbangan. Kapal, perahu, dan sampan banyak juga yang hanyut karena putus tali penambatnya karena gelombang dan arus yang kuat.

Dalam ilmu alam, angin yang terjadi ketika itu termasuk jenis angin siklon. Yakni angin ribut yang berputar dan bergerak dengan keras mengelilingi suatu pusat. Tempat yang menjadi pusat angin siklon waktu itu ada disekitar Pulau Bawean.

Ketika angin telah reda, banyaklah kapal dan perahu besar-kecil serta sampan-sampan terdampar di pantai Pulau Bawean yang jenisnya sangat beraneka ragam. Ada jenis perahu bugis, Sulawesi, Sumatera, Banyuwangi, sampan Madura dan masih banyak lainnya.

Pusat dari segala pusat angin siklon di atas tersebut terjadi di Pulau Noko. Sehingga Pulau Noko yang sebelum terjadi angin siklon itu hanya berupa tumpukan karang laut biasa setelah angin siklon telah reda, tumpukan karang-karang tersebut tertutup pasir yang semuanya berwarna putih yang berasal dari pasir-pasir yang dihempaskan oleh gelombang-gelombang besar dan arus kuat, maka jadilah Pulau Noko yang ada sampai sekarang ini.
Read More - Pulau Noko

07 Juni 2009

Kandasnya Sebuah Kapal Haji (2)


Alkisah, pada suatu hari ada sebuah kapal besar dari arah timur yang berlayar menuju Mekkah. Kapal tersebut ingin mengantar para penumpangnya untuk menunaikan ibadah haji. Entah karena apa, setelah sampai di sebelah tenggara Pulau Bawean, kapal tersebut tiba-tiba kandas. Padahal laut itu amat dalam dan tak kelihatan satu bendapun yang menahan kapal tersebut.

Setelah beberapa jenak, tiba-tiba dengan sangat ajaib plus aneh di atas geladak kapal itu ada seekor ayam jantan berbulu putih mulus dan berparuh emas, kemudian ia berkokok nyaring sekali. Seketika itu pula kapal itu sudah tidak bergerak lagi dan benar-benar kandas yang lambat laun bagian-bagiannya menjadi karang dan batu. Sedang tiangnya menjadi pohon nangger yang masih ada sampai sekarang. Barang-barang para penumpang mulai menjamur dan ditumbuhi banyak tanaman. Sedang para penumpangnya yang ingin naik haji tiba-tiba menjelma menjadi kera atau "bhukal" kata orang Bawean.

Setelah diurus-urus ternyata yang menjadi calon jamaah haji itu belum luna ONHnya dan niatnya tidak semata-mata karena Allah SWT, mereka hanya iri kepada para tetangganya yang sudah banyak berkopyah putih. Maka jadilah mereka kera. Kasihannnnn!!!
Read More - Kandasnya Sebuah Kapal Haji (2)

06 Juni 2009

Kandasnya Sebuah Kapal Haji (1)


Beberapa puluh tahun yang lalu,Kalau kita berjalan ke arah timur sekitar 150 meter dari Alun-alun Sangkapuara, kita akan menjumpai tumpukan batu yang beraturan serta memanjang yang berjajar dari selatan. Tepatnya di sebelah barat SMP Negeri 1 Sangkapura sampai ke utara di persawahan "Sabe Celleng" (sawah hitam).
Bebatuan itu benar-benar menyerupai sebuah kapal jika dilihat dari udara. Bagian depannya berada di sebelah selatan sedangkan buritannya di sebelah utara. Dua pohon "Nangger" yang berjajar bagai tiang kapal tersebut. Di bagian tengahnya banyak karang-karang yang menyerupai alat-alat kapal lainnya, misalnya ada yang menyerupai kamar, pagar kapal, dan lain-lain. Ada dua karang yang jika ditekan agak keras akan berbunyi karena kedua karang itu memang tidak rata bagian bawahnya. Diperkirakan dua batu itu adalah sekoci kapal tersebut sebab bentuknya memang mirip sekoci.

Kini batu-batu itu sudah tidak menyerupai kapal lagi dan hampir rata dengan tanah karena dibantai oleh manusia, para penambang batu. Beribu-ribu kera yang menghuni batu karang itu dan beratus-ratus burung bangau yang bersarang diatas pohon Nangger juga sudah tak nampak lagi. Entah kemana nasib mereka, padahal mereka juga mahluk seperti kita yang ingin hidup Aman, tidak banyak gangguan.

Alkisah.....>>>>(2)
Read More - Kandasnya Sebuah Kapal Haji (1)

05 Juni 2009

Siapakah yang Nomor Satu?


Perlu diketahui oleh para generasi Bawean, bahwa menurut Ali mufrodli seorang yang meneliti "Sejarah Masuknya Islam di Pulau Bawean" penyiar Agama Islam yang pertama di Pulau Bawean adalah Pangeran Panembahan. Orang Komalasa menyebutnya Embah Pangeran atau Pangeran Cekot karena memang tangannya agak cekot. Namun ada juga yang menyebutnya pangeran Komalasa.

Ali Mufrodli menyamakan antara Pangeran Panembahan dengan Pangeran Bairatsu, yaitu utusan khusus Sunan Giri Gresik untuk menyiarkan dan mengajarkan agama Islam di Pulau Bawean. Sedangkan penyiar Islam yang kedua adalah Maulana Umar Mas'ud yang berasal dari Campa,Palembang, Sumatera.

Selanjutnya Ali Mufrodli memastikan bahwa tempat yang mula-mula digunakan untuk menyebarkan Islam di Pulau Bawean adalah Desa Komalasa. Tapi Ali Mufrodli dalam skripsinya tidak menyebutkan siapa orang islam (berarti tidak harus penyiar Islam) yang pertama mendarat di Pulau Bawean. Apakah Pangeran Panembahan, Jujuk Campa, Embah Ubaidillah atau Embah Subuh?

Diperkirakan bahwa Jujuk Campa lebih dulu mendarat di Komalasa. Alasan yang pertama karena kuburan Jujuk Campa berada di dekat pantai komalasa dan tampaknya lebih tua dibandingkan dengan kuburan Pangeran Panembahan yang terletak di kuburan perkampungan penduduk. Alasan yang kedua bahwa Pangeran Panembahan merupakan utusan Sunan Giri. Padahal Sunan Giri adalah murid yang kemudian menjadi menantu Sunan Ampel. Sedangkan Sunan Ampel adalah anak kemenakan Ratu Darawati. Ayah Darawati itulah yang dikenal Jujuk Campa. Jadi berdasarkan data, usia Jujuk Campa jauh lebih tua dari pada usia Pangeran Panembahan. Dengan demikian kemungkinan besar, lebih dulu Jujuk Campa yang mendarat di Bawean daripada Pangeran Panembahan.

Akan tetapi disebutkan bahwa ketika Jujuk Campa berhalangan ikut mengantarkan Raden Patah ke Tanah Jawa, telah ada orang islam Komalasa (sebut saja kyai), bahkan kyai itu ikut ikut juga mengantarkan Raden Patah ke Surabaya. Berarti, sebelum Jujuk Campa mendarat di Komalasa, tentunya ada orang Islam yang mendahuluinya.

Kini, yang palik layak "dicurigai" bahwa orang Islam yang pertama kali memasuki Pulau Bawean adalah Embah Ubaidillah yang berasal dari Sulawesi itu. Tetapi di desa Komalasa masih ada beberapa kuburan yang membujur utara-selatan (kuburan Islam) yang tidak kalah tuanya dengan kuburan Embah Ubaidillah. Atau mungkin ada juga kuburan Islam yang lebih tua di tempat lain di Pulau Bawean. Siapa tahu?
Jadi siapakah sebenarnya orang Islam yang pertama kali mendarat di Pulau Bawean?
Read More - Siapakah yang Nomor Satu?

04 Juni 2009

Cerita Dari Pangkalan


Pengen tahu asal-usul nama Dusun Bangkalan?oke...
Di pulau Bawean ada dua dusun yang bernama "Bangkalan". Di desa Dekat Agung dan di desa Sawahmulya Sangkapura. Yang akan diceritakan kali ini adalah "Bangkalan" yang kedua.

Dulu, di sebelah timur Dusun Sawahlaut, Desa Sawahmulya, masih berupa semak belukar dan tak satupun rumah yang berdiri disana. Daerah itu masih merupakan kawasan dusun Sawahlaut. Di sebelah timur daerah itu terdapat sebuah sungai yang merupakan muara dari dua sungai yang airnya berasal dari Gunung Kolor dan Gunung Porot. Muara sungai selebar 6-7 meter itu merupakan pembatas antara desa Sawahmulya dan desa Sungairujing. Pada masa lampau, sungai itu banyak dikunjungi perahu yang berasal dari Jawa, Bugis, Sumbawa, Batak, Ambon, Makasar dan sebagainya. Perahu-perahu itu tujuannya untuk berdagang. Barang-barang yang diperdagangkan antara lain beras,kopi,teh,cengkeh,gula dan lain-lain.

Oleh karena banyaknya pedagang pendatang, dan biasanya mereka berbulan-bulan berada disana, maka daerah yang dulunya semak belukar itu disulap menjadi perkampungan yang layak. Penghuninya setiap hari bertambah banyak yang tak lain mereka adalah pedagang pendatang itu. Dengan adanya sebuah kampung di sebelah barat sungai itu, semakin ramailah sungai itu dikunjungi perahu pedagang untung berpangkal. Maka sungai itu pun disebut dengan nama Sungai Pangkalan, sungai untuk ber- "Pangkalan"-nya perahu pedagang.

Akhirnya, karena penghuninya semakin banyak dan benar-benar telah menjadi sebuah kampung yang "merdeka", juga sudah memisahkan diri dari dusun Sawahlaut, maka kampung anyar tersebut diberi nama "Kampung Pangkalan" yang diambilkan dari nama sungainya.

Setelah sekian tahun dan karena perkembangan zaman, maka nama itu dilazimkan menjadi "Bangkalan" yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kabupaten Bangkalan di Madura...hehehi.
Read More - Cerita Dari Pangkalan

Sirajuddin, Runner up MTQ Kabupaten Gresik


Mohammad Sirajuddin (siraj) adalah putera dari bapak Hasan dan ibu Suriyati asal Sungai Teluk kecamatan Sangkapura. Siwa SDN Patar Selamat 3 ini berhasil menjadi juara 1 lomba MTQ tingkat kecamatan untuk yang ke-tiga kalinya sehingga secara otomatis menjadi wakil untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten.

Kemarin, Lomba MTQ dalam rangka HAN (hari anak nasional) tingkat kabupaten bertempat di aula "Ainul Yaqin" (kantor Diknas) . Puluhan guru pendamping dan orang tua siswa dari tiap kecamatan menyaksikan lomba yang dimulai sekitar pukul 08.00 wib. Namun tidak semua kecamatan mengirimkan wakilnya. Ada 5 kecamatan yang tidak mengirimkan wakilnya dalam lomba kali ini.

Dalam lomba dengan tiga juri ini, Siraj berhasil menjadi runner up dengan nilai 90. Selisih 1 poin dengan juara pertama asal kecamatan Gresik kota. Siraj yang masih duduk di bangku kelas 5 ini mengaku bangga dan sangat bersyukur atas prestasi yang telah diperolehnya. Meskipun sebelumnya, anak didik dari ustad Yarmis (juara nasional MTQ) ini , sangat optimis menjadi juara. Keoptimisan Siraj memang sangatlah beralasan, karena setelah ia selesai tampil banyak penonton yang kagum dan menyalaminya dan mengucapkan selamat. Namun, keputusan jurilah yang lebih berkuasa dalam suatu lomba. Semoga prestasi Mohammad Sirajuddin ini menjadikan siswa Bawean lainnya lebih tertantang untuk berprestasi.(aby)
Read More - Sirajuddin, Runner up MTQ Kabupaten Gresik

Telaga Kastoba


Alkisah, pada zaman dahulu, Pulau Bawean masih bernama Pulau Majeti. Di tengah-tengah Pulau Majeti terdapat pohon besar dan anggun, tetapi rindang sehingga kalau seseorang berdiri di bawahnya akan dapat menjangkau sebagian daun pohon tersebut. Kala itu Pulau Majeti diperintah oleh Ratu jin yang berwibawa. Semua mahluk di daerah kekuasaanya tunduk kepadanya, baik mahluk halus maupun mahluk kasar. Ratu jin di Pulau Majeti sangat termashur dan dikenal oleh Ratu-Ratu jin yang lain di Nusantara, ini karena di daerah kekuasaan Ratu Jin Majeti terdapat "pohon sakti" yg tdk dimiliki oleh ratu jin lain di mana pun di kepulauan Nusantara ini. Yang tiada lain adalah pohon besar dan rindang ditengah Pulau Majeti itu.

Karenanya dalam waktu tertentu, Ratu jin selalu mengubah kebijaksanaanya demi menyelamatkan pohon tersebut. Ratu juga ingin sekali melestarikan pohon kebanggaanya itu. Maka dipanggillah beberapa jin pengawal kerajaan. "wahai pengawalku!" "Ya Ratu!" "Coba kau jemput burung gagak jantan yg sedang berada di Pantai Ria,Desa Dekat Agung dan burung gagak betina yg ada di Pantai Mayangkara, Desa Ponggo!" "Hamba laksanakan Ratu!." Demikian jawab pengawal kerajaan sembari menundukkan tubuhnya dan terus berangkat untuk memanggil ke dua burung gagak tersebut.

Setelah keduanya datang menghadap Ratu, maka sang Sang Ratu jin berkata... "Hai, Gagak! kamu berdua akan mendapat tugas baru yg berat, tetapi sangat mulia! bersediakah engkau?" "Dengan senang hati, Ratu" sembah kedua gagk itu. "Bagus. Memang hanya engkaulah yg dpt mlksanakan amanat ini. Apalagi selama ini kalian telah mengerjakan tugas-tugas kerajaan dengan sangat baik n berhasil" "Tugas gerangan apakah itu, Ratu?" tanya kedua gagak itu. "Begini. Engkau berdua sudah waktunya untuk mengetahui keadaan ini, karena engkau telah menjadi pegawai kerajaan berjabatan tinggi. Tapi, sebelumnya saya ingatkan janganlah kalian membocorkan "rahasia kerajaan" ini." titah Ratu penuh harap, kemudian melanjutkan. "Kerajaan kita mempunyai pohon istimewa yg terdapat ditengah-tengah pulau ini. Berkat pohon itulah kerajaan kita termashur dan disegani oleh kerajaan lainya. Segala bagian pohon itu amat berguna bagi kehidupan!" "oh ya?" sambung kedua gagak itu. "Akarnya, batangnya, dan rantingnya sebagai tumbal bencana alam, dan bahaya lain. Sehelai daunnya saja, bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan sgt ampuh daya sembuhnya. Bunganya juga dapat untuk kekebalan pemiliknya" "Hai, sakti amat!" "Nah, kewajibanmu sekarang adalah menjaga pohon itu serta bagianya. Berjagalah dengan disiplin atas segala gangguan dan ancaman,baik dari luar atau dari dalam kerajaan. waspadalah selalu ke udara,ke laut atau ke darat. Jika ada mahluk asing yg mencurigakan, segeralah hubungi dan lapor pd penjaga istana" Kedua pohon gagak itu tidak menjawab, hanya memperhatikan dengan seksama instruksi-instruksi Ratunya. Betapa berat tugas yg dipikulnya. Namun mereka cukup bangga karena mendapat kepercayaan dan kehormatan dari Tuannya.

Hingga pada suatu hari, burung gagak menjumpai seorang pemuda buta yang sedang tertatih-tatih dan berusaha mencari obat demi kesembuhan kesua matanya. Melihat hal yang demikian sang gagak merasa iba dan kasihan kepada pemuda tersebut dan melanggar janji mereka kepada ratu jin.
"wahai pemuda buta, ambil daun pohon besar ini dan usapkan ke kedua matamu yang buta. Maka kau akan dapat melihat lagi", kata gagak kepada pemuda buta tersebut. Akhirnya pemuda itu mnuruti perinah si gagak dan pemuda itu langsung sembuh, kedua matanya dapat melihat secara normal.
Ratu jin mendengar berita tersebut kemudian marah lalu mencabut pohon besar dan sakti yang berada di tengah-tengah Pulau bawean itu. Bekas dari cabutan pohon besar itulah kemudian menjadi sumber dan membentuk danau. Hingga saat ini danau itu masih asri, rindang dan tentunya masih ada kesan mistisnya. Danau itu terkenal dengan sebutan Danau Kastoba.
Read More - Telaga Kastoba
 

© 2009 News And Tales From Bawean

Fresh Template by NdyTeeN | Powered by: Blogger